Pages

Sunday, July 13, 2014

Coming up:

New projects coming up this year (or this July):

I'm working on 2 novels at once! I dunno which one will finish first but both of them had gone to quite serious storyboarding so I hope they'll finish soon. Meanwhile, I'm postponing the Another Chance series since I got stuck after writing the three chapters. I tried finishing it once as a short story and well, it really didn't turn out to be that great. Kinda felt like Narnia turned upside down. 

So, I decided on a fresher plot and apparently, more humane characters. The names are:

- Lights Off 

(that's the cover I designed, by the way. It's still in the making)

This one is, just like Another Chance, a sci-fi. It's in Bahasa, and I planned to translate it into English. It's not about a glowing girl, in case you wondered. More about it later on, I'll keep an update. 

- Foster

(I designed this cover too)

This is actually my lame effort to participate in the NaNoWriMo, and to be honest I worry it won't finish by the end of July, but hey, at least I tried. It's simple, it's a drama, a little romance, no sci-fi. Purely slice of life. It's in English, since I registered it in the NaNoWriMo Camp. Please spare a visit there!


And, I'm currently also finishing my short story, Kembar (if I could translate it in English, I would change the title into Intertwined). It's about a girl watching the movie when she realized at the end that the whole movie kinda predicted and depicted her life. I'm currently editing it so it's gonna hit the blog pretty soon once I'm done with it. Ooh, I'm so excited!

So in the meantime, keep up with me and stay updated. Thank you! ;)

Monday, June 16, 2014

The Phone Call

"Erhm."

Halo?

"Halo. Mama ada?"

Lagi pergi. Jemput Meli. 

"Ke mana?"

CP. 

"Kezia ikut?"

Iya. 

"Jam berapa jalan?"

Mungkin jam sembilan-an tadi. 

"Kapan pulang?"

Ga tau. 

"Udah makan?"

Udah. Papa?

"Udah. Makan apa?"

Nasi, hmm... Baso goreng. Sama kangkung eh, bayam merah. Sama jagung. Ada makanan di rumah. 

"Gimana ulangannya kemaren?"

Belum dibagi rapotnya. 

"Oh."

And there it was. That stony silence I never had for years. While I tried to hold a grip to my tears. No matter how much you said about it, some things will always get under your skin. And sometimes, all you can do is be quiet, try to collect yourself. 

"Bayar uang sekolah bulan ini?"

Ga tau. Ga nanya. Ntar deh Yuli tanyain dulu. 

"Soalnya kata Meli bayar."

Iya sih. Seharusnya kalau Meli bayar Yuli juga. Ntar Yuli tanyain dulu deh. 

"Iya."

Another piercing silence. 

"Ya udah."

Iya. Ati-ati pa. 

"Iya."

I held the phone weakly as I put it back to place. No matter how much you tried to shade it away, it will all always comes back to you. I perked on my iPod again. Everything is blurry and watery. 

Oh, well. We'll always have to get through this, don't we? 

Tuesday, May 20, 2014

Nol

Kosong. 

Rumah itu sepi lagi. 

Semua untaian memori yang sebelumnya mengisi penuh ruang-ruangnya, hilang. 

Semua degup yang mampu membuatnya hidup, sirna. 

Kembali lagi di sini. Apa yang tersisa. Bukan lembaran baru namun kisah usang berbalut semua rasa. 

Rasalah yang tersisa. Tiang kuat yang mampu membuatnya berdiri,

bernapas. sedikit. 

Kamu dulu meminta izin menjadi penghuninya. Namun setelah aku mengusir yang terakhir, tak rela aku menyewakannya untuk orang lain. 

Lebih baik ia dibeli. Jangan ditinggal lagi. Tak ingin rumah yang ramai itu sepi lagi karena alasan yang sama. Rumah itu bukan objek sewaan. 

Terlalu sayang. Biarkanlah ia menikmati kesunyiannya sejenak. Mungkin dari sana akan ia temukan penghuni yang tepat untuknya. 

Meskipun dengan cara yang menyiksa. 

Dengan

sepi. 

Kosong. 

20 Mei 2014, 1.29 p.m.

Wednesday, April 9, 2014

Brother's Drive

"Glenn Budikarsa, you are never going to drive again!" Karina berjalan cepat, suara high-heels-nya mengetuk-ngetuk lantai sementara langkahnya besar-besar memasuki kamar rumah sakit itu. Glenn memandangnya lalu mengerang.
"Seriously sis, that's not the proper way to visit or to congratulate your 'saved-from-death' brother," Glenn mengangkat tangannya setengah jalan.
"How can I not be furious if you have injured yourself in a car accident for THREE times?!" Karina berseru, cukup keras untuk membuat pasien-pasien di kamar itu menoleh padanya.
"Come on darling, please let him be," Tante Anita, ibu Karina dan Glenn yang duduk di samping tempat tidur tempat Glenn berbaring, menenangkan kedua saudara yang lebih terlihat seperti bersitegang itu. "You look tired, just like your brother. Why don't you sit down here and look--"
"I'm tired, but I'm not the one with injured feet and a brain seizure," Karina berdeham, "have you made sure that he is not getting more retarded?"
"HEY!" Glenn mencoba bangkit dari tidurnya yang dilanjutkan dengan erangan kesakitan.
"Oh, come on, you have all too grown up to fight. Bunda pengen makan, Karina, kamu jagain Glenn dulu ya." Tante Anita beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan ke luar kamar. Sembari berpapasan dengan Karina, Tante Anita berkata, "Bunda nggak mau dengar ada yang berantem di antara kalian." Lalu ia pergi.
Karina duduk di bekas tempat duduk ibunya, diam-diam terlihat khawatir. "Hey, how bad does it feel?" Karina mengulurkan tangannya, menyentuh punggung telapak tangan Glenn yang terkulai lemas di samping tubuhnya.
Glenn memandangnya. "Not bad. Pretty badass." Ia tersenyum. Karina hampir saja menjitak kepalanya.
"Bodoh. Lo mau mati?" Karina berbisik. "Udah, jangan kecelakaan terus dong, Glenn." Karina tersenyum perih.
Dengan tangannya yang bebas, Glenn mengacak-acak rambut Karina sambil tersenyum lemah. "You don't have to worry, sis."
"Yep. And that's why, SIM lo udah gue blokir." Karina merapikan rambutnya kembali dengan satu kibasan.
"Apa?"
"SIM lo udah gue blokir. Lo serem sih, tiap nyetir kecelakaan mulu. Haram tau nggak?"
"Tapi nggak adil! Ntar siapa lagi yang nyetir?"
"Gue."
"Ih, emang Bunda setuju?"
"Dia yang nyuruh malah."
Glenn cemberut.

say it in your language.