Pages

Friday, July 22, 2011

Kinara

Seorang perempuan menari di ujung lorong. Namanya Kinara.

Kinara suka menari. Kinara mencintai bintang. Karena itu Kinara hanya akan menari di depan bintang.

Kinara mau semakin dekat dengan bintang, sehingga dalam tariannya, Kinara seringkali bernyanyi pelan, "bawa aku ke bintang."

Suatu hari, Kinara yang kelelahan bermalam-malam menari terduduk menangis di ujung lorong. Seekor burung hantu berjubah menghampirinya. 

"Mengapa menangis?" tanya burung hantu.

"Aku kelelahan menari untuk bintang. Ternyata, meskipun aku menari sampai seluruh tubuhku kelelahan, bintang tetap tak datang." Kinara menangis sambil menjelaskan.

"Aku mungkin tidak bisa membawamu ke bintang, tetapi aku bisa membawamu ke bulan, mungkin." Burung hantu menggaruk-garuk kepalanya, berpikir keras.

"Untuk apa aku ke bulan? Di bulan hanya ada kehampaan. Aku benci bulan."  Kinara menggeleng-geleng lemah.

"Namun kau bisa menemukan bintang, dan mungkin bisa lebih dekat dengan bintang di sana."

"Benarkah?" Kinara membelalakkan matanya, tangisnya terhenti. Ia merasa memiliki harapan.

"Benar. Mari kutunjukkan jalannya," pinta sang burung hantu. Ia menggamit tangan Kinara, membawanya pergi.

Sementara Kinara pergi ke bulan, bintang sedang turun ke bumi, menjadi bintang jatuh yang indah.

Yuli

Mama Takut Ulat Bulu

Hari ini aku jalan-jalan ke mal bersama mama, Kezia dan Meli, adik-adikku. Kami berniat untuk mencari buku pelajaran Meli dan aku, serta membelikan mainan dokter-dokteran yang sudah dijanjikan mama ke Kezia. Hari ini pencarian kami untuk buku pelajaran payah sekali, hanya 1 untuk masing-masing kami. Setelah pusing berputar-putar mencari buku, kami memutuskan untuk me-refresh diri kami dengan mencari mainan untuk Kezia. Kami pergi ke toko "Early Learning Center".

Aku mulai mencari-cari mainan untuk Kezia--dan tentu saja, mainan yang bisa menarik untuk dicoba. Ibuku memintaku untuk menentukan mainan yang pas untuk Kezia diantara 2 pilihan. Aku berakhir memilih 1 yang mahal akibat desakan Kezia. Saat mama ingin membayar mainan Kezia sambil bergurau tentang mahalnya harga mainan, Meli menemukan mainan yang menarik. 

Mainan itu dilemparkan kepadaku. Aku menatapnya setelah tersentak (sedikit). Sebuah replika (edisi geli dan lebih besar) dari ulat bulu. Meli berbisik, "lemparkan ke mama, deh."

Aku melihatnya lagi sejenak. Karena tidak berniat untuk mengagetkan mama, aku hanya menyampirkan mainan itu ke atas tangan mama yang sedang mengetik di BB-nya.

Sejenak kemudian, aku mendengar teriakan dan loncatan dari mama. Mama kaget. Untung tidak ada kasir disana, karena kasirnya sedang mengambilkan barang belian mama.

Aku tertawa. Semua tertawa. Ternyata, mama takut ulat bulu.

Yuli

Ulangan Vs. Tidur


Aku masih ingat hari Kamis itu, saat aku sedang mengerjakan ulangan mid-semester fisikaku. Hari itu aku sangat yakin bahwa aku akan dapat nilai bagus. Pertama, aku sudah belajar ekstra keras, bahkan dari minggu sebelum ulanganku dimulai. Kedua, aku yakin bahwa aku sudah cukup TIDUR (itu masalah terbesarku) malam sebelumya, yaitu kira-kira 5 jam. Ketiga, aku sudah belajar di waktu istirahat pertama sekolahku sebelum waktu ulangan fisikaku, plus berdoa sebelum berangkat sekolah dan sebelum ulangan. Aku merasa sangat segar dan tentu saja, bersemangat!

Namun, sepertinya Tuhan berkata lain. Pada saat aku memasuki ruang ulangan, aku langsung merasa ngantuk. Aku langsung menepis perasaan itu, lalu beranjak ke tempat dudukku. Kukeluarkan semua peralatan perangku, dari pensil yang sudah diraut super tajam sampai kartu legitimasi yang sudah kupotong rapi. Lembar jawaban dan kertas ulangan dibagikan. Setelah itu, kertas soal dibagikan.

Saat aku melihat soal, aku langsung merasa percaya diri. Soalnya tidak terlalu sulit! Namun ketika soal hitungan pertama muncul, aku mulai merasa mulas. Lalu tiba-tiba kantuk menyerang. Tidak terlalu parah sih, jadi aku terus saja mengerjakan, meski ada yang sudah sepertinya teriak-teriak di kepalaku, ke toilet, ke toilet! Cuci muka! 

Saat hitungan yang benar-benar sulit (koma-komaan lagi), aku mulai agak ngantuk (lagi). Aku menatap ke jam. Wah, sudah tinggal 1 jam lagi, pikirku. Aku terus saja menatap jam, memperhatikan detik-detiknya yang berlalu. 

Tiba-tiba aku tersadar kembali, setelah guruku berbicara, "lima belas menit lagi. Ayo, di cek dulu jawabannya." Aku gelagapan melihat jam. Loh, kok 15 menit lagi! Eh, dari tadi gue gak ngapa-ngapain!! teriakku di dalam hati. Tadi 'kan gue baru ngeliat jam!

Namun, guruku sudah memastikan semua siswa di kelasku sudah selesai mengerjakan, dan mulai mengumpulkan. Malangnya nasibku. Aku baru selesai 13 soal! Secara acak aku mulai menjawab sisanya di lembar jawaban. Aku sangat menyesal melihat diriku melewatkan soal-soal mudah dengan terburu-buru akibat waktu. Guruku sambil marah-marah menungguku menyelesaikan jawaban. Bahkan, temanku tak tega melihatku mengerjakan soal yang masih bersisa 37 butir itu.

Ketika ulangan itu akhirnya berlalu, aku "mengumumkan" kekesalanku ke teman-temanku, yang menjawab dengan jawaban yang tak kalah menyedihkan. Beberapa hanya mengerjakan kurang dari 20 soal dengan benar. Aaaahh, aku merasa kalah sekali.

Beberapa hari kemudian, nilai ulangan fisika itu selesai dirilis, dan diumumkan di papan pengumuman sekolah. Aku melihat angkanya.

56.

Paling rendah seumur-umur ulangan fisikaku.

Lalu tiba-tiba guru fisikaku lewat. "Kok bisa ya nilainya jelek kayak gini? Soalnya sudah dibuat mudah, rasio pembagian nilai esai dan pilihan gandanya sudah dibuat supaya nilainya bisa bagus, tetap saja jelek. Bodoh kali ya yang mengerjakan ulangan ini sampai nilainya merah? Pasti pada nggak belajar," ujarnya selintas.

Ia mengucapkannya di depan adik kelasku. Mungkin ini hukuman dari Tuhan karena sombong untukku.

(Setelah beberapa waktu, aku baru mengetahui sendiri bahwa ternyata aku tertidur sambil membuka mata saat itu. Ada yang bisa?)


Yuli

Woohoo!!

Haiiiii... Semua! Karena gue udah absen lama banget, gue mau bayar posting gue yang bolong-bolong dengan... Tarraaaaa!!! Hasil latihan nulis gue selama SEBULAN ini. Ada banyak, dan akan gue langsung posting. Selamat membaca!

Super Cheers!!

Yuli

Friday, March 25, 2011

About that purity ring.

Yeep. About "that" ring. (Jadi inget "The Onion Ring"-nya Annoying Orange, hahahaha...)
Oke. Aku mau meluruskan pengartian yang salah. (Huaaa... bego banget ya? Ga jelas-ga jelas begini... Duuuh... *risih*. Kayaknya cuma berani gila begini pas nulis ga jelas ya?*jangan dianggap*)
Gini, cincin itu memang bukan jimat. Tapi benda itu spesial. Setelah berpikir, the right words to describe it adalah token reminder.
Bahkan cincin itu ada artinya. Artinya "God is the vine" (kalo ga salah. Eh, bener deh.). At least, mengingatkan kalo aku harus (hanya) bergantung sama Dia.
So, itu bukan jimat. Kenapa kupakai hanya diluar rumah, karena kalau dirumah bisa disimpan ditempat yang aman (biar ga ilang, susah nyarinya). Toh, gak akan ada cowok yang cukup gila untuk godain gue dirumah. (Kalo ampe ada, berarti dia gila banget.)
Itu kupakai supaya setiap kali "pemandangan indah (alias cowok-cowok indah berspesies indah) itu muncul, ato "nembak" (namanya konyol banget), aku bisa liat terus tu token reminder yang ngingetin gw (ga sinkron banget "gw n' "aku") kalo itu purity ring gw pake berarti gw ga bakal pacaran sampe saat yang tepat. Jadi kalau "temptation" seperti itu datang (soalnya udah pernah kecolongan), gw ga akan kalah (lagi).
Begitulah. Penjelasan panjang ga jelas (muter-muter lagi) dari gw. Waktu terakhir pertanyaan itu ditanyakan, gw lagi pusing jadi bungung mo jawab apa (tapi ngeganjel terus).
Sori kalo gw naif, egois, n' keliatan munafik (ato munafik beneran?!). Plis, ini cuma explanation. Mungkin kedengaran private dan ga pantes, tapi jangan salahin gw (liat jamnya ini dibikin, kepala gw ibaratnya kayak sembriwing gitu deh.)
Ya. Itu saja. Terima kasih atas kesediaannya membaca dan mengerutkan kening (atau malah marah dan tertawa?)
Please, spare me.
Thank you.
Friday 25th, 2011

00.41 A.M.


Yuli

say it in your language.